JUAL BELI DALAM
ISLAM
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Agama Islam
Pengampu : Drs. Machfudz, MA
Disusun Oleh:
1.
Abadi Setiawan
2.
Indra Firmansyah
3.
Mahsusotun Nafisah
Oleh :
1. Abadi setiawan
2. Arif Santoso
Porgram Studi
Teknik Informatika Semester I
FAKULTAS TEKNIK DAN
ILMU KOMPUTER
UNIVERSITAS SAINS
AL-QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO
TAHUN 2013-2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia
adalah sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari bermu’amalah antara satu
dengan yang lainnya.
Mu’amalah
sesama manusia senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan sesuai kemajuan
dalam kehidupan manusia.
Oleh karena
itu aturan Allah yang terdapat dalam al-Qur’an tidak mungkin menjangkau seluruh
segi pergaulan yang berubah itu.
Itulah
sebabnya ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini hanya bersifat
prinsip dalam mu’amalat dan dalam bentuk umum yang mengatur secara garis besar.
Aturan yang lebih khusus datang dari Nabi.
Hubungan
manusia satu dengan manusia berkaitan dengan harta diatur agama islam salah
satunya dalam jual beli.
Jual beli
yang didalamnya terdapat aturan-aturan yang seharusnya kita mengerti dan kita
pahami. Jual beli seperti apakah yang dibenarkan oleh Islam dan jual beli
manakah yang tidak diperbolehkan.
Adapun
beberapa kata beberapa Macam Khiyar yang harus kita ketahui.
BAB II
PERMASALAHAN
1. Pengertian Jual beli ?
2. Rukun Jual Beli ?
3. Syarat – Syarat Jual Beli ?
4. Macam – Macam Jual beli ?
5. Macam – Macam Jual beli yang
terlarang ?
6. Khiyar ?
7. Macam – Macam Khiyar ?
BAB III
PEMBAHASAN
1.
Pengertian Jual
Beli
Jual beli dalam bahasa arab disebut
ba’i yang secara bahasa adalah tukar menukar.
Sedangkan menurut istilah adalah
tukar menukar atau peralihan kepemilikan dengan cara pergantian menurut bentuk
yang diperbolehkan oleh Islam atau menukarkan barang dengan barang atau barang
dengan uang, dengan jalan melepaskan hak milik dari seseorang terhadap orang
lainnya atas kerelaan kedua belah pihak.
Hukum melakukan jual beli adalah boleh
(جواز) atau (مباح), sesuai dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 275:
وأحل الله البيع وحرم الربا
Allah telah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba
Dan hadist Nabi yang berasal dari
Rufa’ah bin Rafi’ menurut riwayat al- Bazar yang disahkan oleh al-Hakim:
أن النبى صلى الله عليه وسلم سئل أى
الكسب أطيب قال عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور
Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW,
pernah ditanya tentang usaha apa yang paling baik; nabi berkata: “Usaha
seseorang dengan tangannya dan jual beli yang mabrur”.
Hikmah diperbolehkannya jual beli
adalah menghindarkan manusia dari kesulitan dalam bermu’amalah.
2.
Rukun Jual
Beli
1. Adanya ‘aqid (عاقد) yaitu penjual
dan pembeli.
2. Adanya ma’qud ‘alaih (معقود عليه)
yaitu adanya harta (uang) dan barang yang dijual.
3. Adanya sighat (صيغة) yaitu adanya
ijab dan qobul. Ijab adalah penyerahan penjual kepada pembeli sedangkan qobul
adalah penerimaan dari pihak pembeli.
3.
Syarat –
Syarat Jual Beli
A. Syarat Bagi Orang yang Melakukan
Jual Beli :
a. Baligh (berakal)
Allah SWT berfirman:
وَلاتُؤْتُوْا السّفَهَاء
اَمْوَالَـكُمُ الّتِى جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا... (النساء: ٥)
“Dan janganlah kamu berikan
hartamu itu kepada orang yang bodoh (belum sempurna akalnya) harta (mereka yang
ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (Q.S.
an-Nisa: 5)
Ayat diatas menunjukkan bahwa orang
yang bukan ahli tasaruf tidak boleh melakukan jual beli dan melakukan akad
(ijab qobul).
b. Beragama Islam, hal ini berlaku
untuk pembeli (kitab suci al-Qur’an/budak muslim) bukan penjual, hal ini
dijadikan syarat karena dihawatirkan jika orang yang membeli adalah orang
kafir, maka mereka akan merendahkan atau menghina islam dan kaum muslimin.
c. Tidak Terpaksa
B. Syarat Barang Yang diperjual Belikan
Antara Lain :
a. Suci atau mungkin disucikan, tidak
sah menjual barang yang najis, seperti anjing, babi dan lain-lain
Dalam hadist
disebutkan :
عن جابر رضي الله عنه أن رسول الله
صلى الله عليه وسلم قال :
إن الله ورسوله حرّم بيع الخمر والخنزير ولأصنام
(رواه البخارى ومسلم)
“Dari
Jabir r.a. bahwa Rasulullah SAW. bersabda, ‘sesungguhnya Allah dan Rasul
telahmengharamkan jual beli arak, bangkai, babi, dan berhala.” (H.R. Bukhari
dan Muslim)
b. Bermanfaat.
c. Milik Sendiri
d. Diketahui (dilihat). Barang yang
diperjual belikan itu harus diketahui banyak, berat, atau jenisnya. Dalam
sebuah hadist disebutkan:
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال :نهى
رسول الله صلى الله عليه
وسلم عن بيع الحصاة وعن بيع الغرر (رواه مسلم)
“Dari Abi Hurairah r.a. ia
berkata, : Rasulullah SAW. telah melarang jual beli dengan cara melempar batu
dan jual beli yang mengandung tipuan.” (H.R. Muslim)
C.
Syarat sah
ijab qobul:
a. Tidak ada yang membatasi
(memisahkan). Si pembeli tidak boleh diam saja setelah si penjual menyatakan
ijab, atau sebaliknya.
b. Tidak diselingi kata-kata lain
c. Tidak dita’likkan (digantungkan)
dengan hal lain. Misal, jika bapakku mati, maka barang ini aku jual padamu.
d. Tidak dibatasi waktu. Misal, barang
ini aku jual padamu satu bulan saja.
e. Macam – Macam Jual beli
4. Macam – Macam Jual beli
Jual Beli ada tiga macam yaitu:
a) Menjual barang yang bisa dilihat:
Hukumnya boleh/sah jika barang yang dijual suci, bermanfaat dan memenuhi rukun
jual beli.
b) Menjual barang yang disifati
(memesan barang): Hukumnya boleh/sah jika barang yang dijual sesuai dengan
sifatnya (sesuai promo).
c) Menjual
barang yang tidak kelihatan: Hukumnya tidak boleh/tidak sah. Boleh/sah menjual
sesuatu yang suci dan bermanfaat dan tidak diperbolehkan/tidak sah menjual
sesuatu yang najis dan tidak bermanfaat.
5.
Macam –
Macam Jual beli yang terlarang
1. Jual beli gharar
Adalah jual
beli yang mengandung unsur penipuan dan penghianatan. Hadist Nabi dari Abi
Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim:
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن
بيع الحصاة وعن بيع الغرر.
2. Jual beli mulaqih
Adalah jual
beli dimana barang yang dijual berupa hewan yang masih dalam bibit jantan
sebelum bersetubuh dengan betina. Hadist dari Abu Hurairah yang diriwayatkan
oleh al-Bazzar:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى
عن بيع المضامين والملاقيح
3. Jual beli mudhamin Adalah jual beli
hewan yang masih dalam perut induknya,
4. Jual beli muhaqolah Adalah jual beli
buah buahan yang masih ada di tangkainya dan belum layak untuk dimakan.
5. Jual beli munabadzah Adalah tukar
menukar kurma basah dengan kurma kering dan tukar menukar anggur basah dengan
anggur kering dengan menggunakan alat ukur takaran.
6. Jual beli mukhabarah Adalah muamalah
dengan penggunaan tanah dengan imbalan bagian dari apa yang dihasilkan oleh
tanah tersebut.
7. Jual beli tsunaya Adalah jual beli
dengan harga tertentu, sedangkan barang yang menjadi objek jual beli adalah
sejumlah barang dengan pengecualian yang tidak jelas.
8. Jual beli ‘asb al-fahl Adalah
memperjual-belikan bibit pejantan hewan untuk dibiakkan dalam rahim hewan
betina untuk mendapatkan anak.
9. Jual beli mulamasah Adalah jual beli
antara dua pihak, yang satu diantaranya menyentuh pakaian pihak lain yang
diperjual-belikan waktu malam atau siang.
10. Jual beli munabadzah Adalah jual
beli dengan melemparkan apa yang ada padanya ke pihak lain tanpa mengetahui
kualitas dan kuantitas dari barang yang dijadikan objek jual beli.
11. Jual beli ‘urban Adalah jual beli
atas suatu barang dengan harga tertentu, dimana pembeli memberikan uang muka
dengan catatan bahwa bila jual beli jadi dilangsungkan akan membayar dengan
harga yang telah disepakati, namun kalau tidak jadi, uang muka untuk penjual
yang telah menerimanya terlebih dahulu.
12. Jual beli talqi rukban Adalah jual
beli setelah pembeli datang menyongsong penjual sebelum ia sampai di pasar dan
mengetahui harga pasaran.
13. Jual beli orang kota dengan orang
desa Adalah orang kota yang sudah tahu harga pasaran menjual barangnya pada
orang desa yang baru datang dan belum mengetahui harga pasaran.
14. Jual beli musharrah Musharrah adalah
nama hewan ternak yang diikat puting susunya sehingga kelihatan susunya banyak,
hal ini dilakukan agar harganya lebih tinggi.
15. Jual beli shubrah Adalah jual beli
barang yang ditumpuk yang mana bagian luar terlihat lebih baik dari bagian
dalam.
16. Jual beli najasy. Jual beli yang
bersifat pura-pura dimana si pembeli menaikkan harga barang , bukan untuk
membelinya, tetapi untuk menipu pembeli lainnya agar membeli dengan harga yang
tinggi.[10]
6.
KHIYAR
Khiyar
adalah hak memilih bagi penjual dan pembeli untuk meneruskan jual belinya atau
membatalkannya karena adanya suatu hal.
7.
Macam – Macam Khiyar
1. Khiyar
Majlis
Adalah hak memilih bagi penjual dan pembeli untuk
meneruskan atau membatalkan akad selama masih berada di tempat akad dan kedua
belah pihak belum berpisah.
2. Khiyar
Syarat
Khiyar syarat yaitu hak memilih antara meneruskan jual
beli atau membatalkannya dengan syarat tertentu
3. Khiyar
’Aib
Khiyar ’aib yaitu hak memilih antara meneruskan jual
beli atau membatalkannya yang disebabkan karena adanya cacat pada barang yang
dijual.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Jual beli
adalah peralihan kepemilikan dengan cara pergantian menurut bentuk yang
diperbolehkan oleh Islam. Hukum melakukan jual beli adalah boleh. Rukun jual
beli ada tiga yaitu,
·
adanya ‘aqid (penjual dan pembeli),
Syaratnya
adalah baligh dan berakal, islam bagi pembeli mushaf, dan tidak terpaksa.
·
ma’qud ‘alaih (barang yang diperjual belikan),
Syaratnya
adalah suci atau mungkin disucikan, bermanfaat, dapat diserah terimakan secara
cepat atau lambat, milik sendiri, diketahui/dapat dilihat.
·
dan sighat (ijab qobul).
Syaratnya
adalah tidak ada yang membatasi (memisahkan), tidak diselingi kata-kata lain,
tidak dita’likkan (digantungkan) dengan hal lain, dan tidak dibatasi waktu.
Jual Beli
ada tiga macam yaitu, menjual barang yang bisa dilihat hukumnya boleh/sah,
menjual barang yang disifati (memesan barang) hukumnya boleh/sah jika barang
yang dijual sesuai dengan sifatnya (sesuai promo), menjual barang yang tidak
kelihatan Hukumnya tidak boleh/tidak sah.
DAFTAR PUSTAKA
- Amir
Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003)
- Ibnu
Mas’ud & Zainal Abidin, Fiqih Madzhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka
Setia, 2007)
- Imam
Abi Zakaria al-Anshari, Fathu al-Wahab, (Surabaya: al-Hidayah, tt)
_________________
[1] Imam
Ahmad bin Husain, Fathu al-Qorib al-Mujib, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 30.
[2] Amir
Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 193
[3] Ibnu
Mas’ud & Zainal Abidin, Fiqih Madzhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka Setia,
2007), hal. 22.
[4] Amir
Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 193-194.
[5] Imam Abi
Zakaria al-Anshari, Fathu al-Wahab, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 157.
[6] Ibnu
Mas’ud & Zainal Abidin, Fiqih Madzhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka Setia,
2007), hal. 28.
[7] Imam Abi
Zakaria al-Anshari, Fathu al-Wahab, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 158.
[8] Ibnu
Mas’ud & Zainal Abidin, Fiqih Madzhab Syafi’i, (Bandung: Pustaka Setia,
2007), hal.26-29.
[9] Imam
Ahmad bin Husain, Fathu al-Qorib al-Mujib, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 30.
[10] Amir
Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), hal. 201-209.
[11] Imam
Ahmad bin Husain, Fathu al-Qorib al-Mujib, (Surabaya: al-Hidayah), hal. 30

No comments:
Post a Comment